«

»

May 24

Mantra “Jaringan Kerja“: Apa yang Dapat Dihasilkannya dan Apa yang Tidak?

Einleitung: Sejak bulan Agustus 2015 hingga Februari 2016, Prof. Dr. Nellen dari Universität Kassel mengajar di Universitas Brawijaya di Malang, Jawa Timur, dalam rangka Johann Gottfried Herder-Programms. Selain itu, Beliau mengurusi IGN-Bioscience; IGN adalah singkatan dari Indonesian-German-Network. Prof. Dr. Nellen tidak hanya menceritakan mengenai masa kerjanya sebagai dosen jangka pendek, melainkan juga mengenai jaringan kerja dan penggunaan media sosial.

 

Infobox: Program Johann Gottfried Herder mendukung dan memfasilitasi para dosen perguruan tinggi di Jerman untuk mengisi posisi sebagai pengajar jangka panjang, minimal selama satu semester, di perguruan tinggi di seluruh dunia. Program ini terbuka untuk semua program studi.

 

Mantra “Jaringan Kerja“: apa yang dapat dihasilkannya dan apa yang tidak?

Prof. Dr. Wolfgang Nellen

“Jaringan kerja“ sudah menjadi sebuah mantra dalam komunikasi. Komunikasi adalah hal yang penting, terlebih di dalam bidang ilmiah; kontak harus dijalin untuk memulai kerja sama, mendapatkan masukan dan juga untuk “memperbanyak“ promotor dan rekomendasi untuk disertasi, praktikum dan pekerjaan. Dalam banyak kasus, yang menjadi tujuan justru hanya untuk membangun jaringan komunikasi. Substansi yang sebenarnya hilang, dan bila kita bandingkan dengan laba-laba, maka jaringan kerja juga bisa berakibat fatal!

IGN (Indonesian-German-Network) – Bioscience dikembangkan dari sebuah program DAAD dan sekarang menjadi sebuah konsorsium beranggotakan 12 universitas di Indonesia dan sejumlah besar program studi, kelompok kerja dan ilmuwan perorangan yang berafiliasi dengan Jerman. IGN sudah berkembang dan berfungsi selama delapan tahun, tetapi tentu saja bisa lebih baik lagi!

Tujuan jaringan kerja adalah untuk mendapatkan subsidi bersama, memprakarsai kolaborasi penelitian dengan institusi-institusi di dalam dan luar Indonesia, memfasilitasi praktikum serta promosi doktoral dan terutama untuk meningkatkan komunikasi di antara para ilmuwan muda. Kami telah mencoba berbagai alat komunikasi dengan tingkat kesuksesan yang berbeda-beda dan sekarang menggunakan sebuah sistem yang memiliki banyak jalur, tetapi masih jauh dari sempurna.

Tentu saja IGN-Bioscience memiliki sebuah situs (www.IGN-Bioscience.org). Sebuah situs internet membutuhkan biaya yang relatif mahal dan seorang pembuat situs serta seorang administrator yang membuat atau menyediakan kontennya. Meskipun sulit membuat situs untuk berita yang aktual, tetapi sangat penting untuk adanya deskripsi dan representasi suatu kelompok atau institusi. Forum di sebuah situs hanya penting pada saat-saat tertentu, dan tidak sering terjadi. Forum tidak banyak digunakan karena ada sarana komunikasi lain yang lebih nyaman dan dapat digunakan untuk mencapai tujuan yang sama.

Jejaring sosial menyediakan sarana komunikasi tersebut dan kami telah membuat sebuah laman Facebook yang normal dan terbuka untuk umum (https://www.facebook.com/pages/IGN-Bioscience/1451686331802879).

Apa yang dapat dan seharusnya dihasilkan oleh laman semacam ini?

Laman semacam ini harus memicu terjadinya diskusi dan mendekatkan para anggota kelompok, yang seringkali tidak saling mengenal secara langsung. Pendapat dan komentar mengenai perkembangan baru dalam ilmu biologi dapat menghasilkan ide-ide dan pada akhirnya mengarah pada proyek-proyek bersama. Namun, komunikasi sendiri juga sudah menghasilkan koneksi yang dapat digunakan di kemudian hari.

Sebuah laman Facebook berguna untuk visibilitas suatu kelompok atau institusi – tetapi hal ini juga dapat menjadi kacau! Bila laman tersebut tidak dikelola secara konsisten, akan muncul kesan “ini adalah sebuah perkumpulan yang membosankan!“. Dalam sebuah grup Facebook yang aktif, banyak anggota yang memberi kontribusi dan selalu ada hal baru yang menarik. Sesuatu yang ditampilkan pada laman Facebook biasanya menarik perhatian selama sekitar dua hari, jarang sekali sebuah diskusi dalam forum berlangsung lebih dari satu atau dua minggu. Jumlah peserta yang aktif biasanya sangat terbatas dan diperlukan seorang “pengurus,“ yang senantiasa memperhatikan bahwa berita yang ditampilkan menarik dan kontribusi yang diberikan oleh para anggotanya cocok untuk laman tersebut: mengikuti sebuah kongres mungkin tidak terlalu menarik, tetapi ketika ada keterangan singkat yang disampaikan, hal ini akan meningkatkan perhatian yang didapat. Seringkali (namun jarang terjadi pada laman IGN), foto-foto menu makan malam yang disukai mendapat lebih banyak perhatian daripada isi sebenarnya di sebuah laman. Di satu sisi, hal ini patut disayangkan, dan di sisi lain juga tersimpan suatu bahaya tertentu dalam hal itu yang akan saya bahas berikutnya.

Kesukesan suatu laman diukur dari jumlah “likes“ dan cakupannya. Untuk sebuah grup yang relatif kecil, sekitar 300 “likes“ yang didapat oleh laman IGN hingga kini bukan hasil yang buruk. Namun, cakupan yang biasanya di bawah 100 menunjukkan bahwa isi laman ini tidak cukup menarik atau bahwa terlalu sedikit yang berpartisipasi dalam pembentukan laman ini atau bahwa ketertarikan grup ini tidak (atau belum) cukup.

Laman IGN-Bioscience jelas belum mencapai tujuannya untuk mendapatkan lingkup pembaca yang lebih luas di luar jaringan kerjanya.

Laman lainnya, yaitu “Belajar Biologi Molekuler“ (https://www.facebook.com/groups/belajar.biomol/?ref=ts&fref=ts) dibuat dan dimoderatori oleh Widhi Adrianna sebagai forum diskusi untuk mahasiswa. Situs dengan lebih dari 500 anggota ini sangat sukses. Penyebabnya jelas, yaitu tidak adanya hambatan bahasa dan ditampilkan secara menyenangkan, baik dalam bahasa Inggris maupun Indonesia.

Di laman Facebook orang memperlihatkan dirinya! Mungkin lebih dari di negara-negara lain, di Indonesia jejaring sosial adalah sebuah permainan yang sering membuat orang lupa bahwa rekan kerja dan juga calon pembimbing tesis atau promotor disertasi melihat laman tersebut dan mendapatkan kesan tertentu. Kesempatan untuk melakukan komunikasi ilmiah cenderung jarang digunakan secara luas. Mungkin tidak akan pernah cukup untuk menekankan, bahwa situs-situs ini dapat diakses oleh umum! Sebuah laman pribadi yang didominasi oleh video game, foto-foto pesta dan makanan, tidak memberi kesan yang baik dalam dunia ilmiah. Dari keanggotaan pada grup-grup lain, dapat terbaca juga minat seseorang yang sebenarnya. Memiliki 3.500 orang teman di Facebook cenderung memperlihatkan bahwa orang tersebut tidak membeda-bedakan dan menerima semua orang sebagai “teman.“ Komentar-komentar juga harus dipikirkan dengan baik: seringkali ada postingan konyol, yang menyebabkan dahi pembacanya berkerut. Di sisi lain: tanpa menampilkan sesuatu di laman Facebook, seseorang tidak dapat terlibat dalam diskusi dan tetap tak terlihat. Ini adalah sebuah pengaturan keseimbangan yang sulit!

Laman Facebook tidak cocok untuk mendiskusikan proyek-proyek bersama, karena tentu saja orang tidak ingin melakukannya di ruang publik. Diskusi juga tidak bisa dilakukan melalui fitur chat di media sosial ini, karena jendela chat yang kecil tidak memberi fleksibilitas besar. Oleh karena itu, kami membuat milis yang sebenarnya sudah kuno, tetapi masih bisa bertahan. Pada pengembangan bersama suatu publikasi atau proposal hibah seringkali dokumen-dokumen berukuran besar harus dipertukarkan dan direvisi. Sarana untuk keperluan itu disediakan oleh Dropbox (https://www.dropbox.com) atau penyedia layanan sejenis.

Persoalan khusus di Indonesia adalah tingginya semangat di awal untuk suatu topik atau suatu proyek, yang sayangnya dengan cepat hilang ketika hal tersebut menjadi konkret. Satu contoh sederhana:

Dalam bidang biologi, kita seringkali tergantung pada materi yang harus dibeli mahal dari perusahaan – tetapi bisa didapatkan hampir gratis dari rekan kerja. Di Indonesia, materi itu harus dibeli karena dengan segala keramahan yang ada, komunikasi dan kesediaan untuk berbagi biasanya sangat kurang. Saran kami (awalnya melalui milis), untuk membentuk suatu koleksi bersama berisi materi yang diperlukan dan bisa dimanfaatkan oleh semua orang, mendapatkan antusiasme yang besar. Namun, pertanyaan berikutnya, “apa yang dapat kalian kontribusikan untuk koleksi tersebut?“ praktis tidak mendapat respon (meskipun hampir semua orang memiliki sesuatu di laboratoriumnya yang dapat diberikan!).

Komunikasi melalui jaringan kerja adalah hal yang baik dan merupakan syarat utama untuk kerja sama yang produktif, tetapi komunikasi tidak dapat disamakan dengan kerja sama! Selain membangun jaringan kerja, persyaratan lain juga harus diperbaiki secara mendasar, untuk meningkatkan kerja sama ilmiah dan pertukaran pemikiran.

Sistem universitas di Indonesia sangat dipengaruhi oleh persaingan. Orang-orang tidak senang berbagi dan budaya diskusi masih rendah. Daripada mendapatkan keuntungan dengan bekerjasama dengan pesaing-pesaingnya, universitas lebih suka bekerja mandiri dan menanggung kerugiannya sendiri.

Di Jerman, saya bisa menelefon seorang rekan kerja di universitas lain (yang saya kenal melalui jaringan kerja) dan meminta dukungan untuk suatu masalah penelitian. Dua minggu kemudian mahasiswa doktoral saya pergi selama beberapa hari ke laboratorium lain untuk mempelajari suatu metode di sana. Biaya yang dikeluarkan: bensin untuk perjalanan dan mungkin akomodasi (tetapi itu pun seringkali diatur secara pribadi dan tidak membutuhkan biaya). Di Indonesia, suatu kerja sama dengan laboratorium lain saja harus mendapat persetujuan dekan dan ketua departemen terlebih dahulu, membuat sebuah Memorandum of Understanding dan membahas standar pembiayaan. Proses tersebut bisa memakan waktu beberapa bulan – lalu seringkali persoalan tersebut keburu terselesaikan dengan sendirinya karena persaingan di luar negeri yang memang lebih cepat.

Jaringan kerja merupakan hal yang penting untuk membangun kepercayaan, tetapi hal ini hanyalah langkah awal untuk memajukan ilmu pengetahuan di Indonesia.

 Prepublication from NADI 23 & 24 with kind permission by the NADI publishers.